Adik Yang Pemalas Sekali

Terimakasih atas kesempatan konselling yang diberikan oleh bapak ibu sekalian.
Permasalahan saya adalah sbb:

Saya anak ke 4 dari 5 bersudara, kami semua telah menikah dan hidup mandiri, terpisah dari orang tua. Ayah sudah meninggal. Sekarang ibu tinggal dengan adik saya perempuan usia 33 th yang belum menikah.

Masalah ada pada adik saya yang bungsu ini. Sebut saja namanya A. Sebagai bungsu, Sedari kecil A memang dimanja oleh orang tua saya. Tidak pernah diberi tanggung jawab, semua kebutuhannya dipenuhi dan dia diatur untuk selalu menjadi “boneka lucu” dari orang2 di sekitarnya terutama ibu dan Tante saya yang lajang dan tinggal serumah dg kami.

Tapi ternyata A tumbuh menjadi anak yang manja dan tidak mau berusaha. Sejak SD dia tidak pernah termotivasi belajar dan berusaha. Nilai rapor amburadul, pemalas, sulit bergaul. Semakin dewasa permasalahan yang dialami A semakin kompleks.

Karena putus kuliah, A menganggur dan tidak pernah mandiri secara finansial. Dia sering mencuri uang ibu dan sangat pandai berbohong. Pelariannya adalah jajan dan jajan, sehingga tubuhnya pun semakin gemuk.

Kesukaannya selain jajan adalah membeli macam2 kosmetik yang tidak pernah dihabiskan. Kamarnya amat berantakan, banyak botol kemasan kosmetik dan bungkus jajanan. Kalau keinginannya dilarang dan dinasihati, A sering menghilang dari rumah, pergi pagi-pulang sore atau malam, entah kemana.

Sekarang diam2 dia punya kekasih, seorang pria yang asal usulnya tidak jelas. Pendidikannya pun jauh di bawah kami yang semua sarjana. Sangat sederhana dan hidup menjadi petani di luar kota.

Sungguh kontras dengan gaya hidup A yang manja, pemalas tapi konsumtif, dan tidak mau berusaha. Saya pun tidak melihat kesungguhan A untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri, sebagai persiapannya menikah dengan pria itu.

Terkesan dia tidak serius tapi cuma menikmati perhatian dari pria itu, sebagai selingan dari hidupnya yang pengangguran dan tidak bergaul.

A jelas2 stres dan diterpa minder yang akut. Tapi dia pun tidak pernah terlihat berusaha mengubah keadaan. Apatis. Semua tindakannya dilakukan diam2, dan tidak bisa diajak berdiskusi dengan terbuka.

Yang memperburuk keadaan sekarang adalah perlakuan ibu kepada A. Karena kami kakak-kakaknya sering menegur A dengan keras (karena dia amat pemalas, bahkan memungut sampah di lantai saja dia enggan sementara kami tak punya pembantu.

Tugas A hanya cuci piring dan cuci baju mereka berdua). Ibu mungkin kasihan dengan A, dan sebagai wujud rasa bersalahnya ibu semakin memanjakan A. Selalu diberi uang untuk jajan & belanja, semakin tidak mandiri lah dia.

Masak untuk makan sehari2 pun A malas. Inginnya beli dan beli. Jajan dan jajan. Keadaan semakin rumit karena A pun akhirnya merasa nyaman dengan kondisi itu. Kalau kami kakak2nya menegur, ibu selalu membela A dan mencela kami yang dikatakan sombong, mentang2 dan tidak sayang adik.

Bapak ibu sekalian, apa yang harus kami – kakak2nya lakukan? Setiap kami menasihati A, yang ada hanya diam dan apatis. Kalau kami menasihati ibu agar tidak memnjakan A, ibu lah yang kemudian bersikap defensif.

Kamu sungguh khawatir dengan keadaan ini. Karena ibu tidak akan hidup selamanya untuk membantu A, bukan? Suatu hari nanti A harus mandiri. dan di usia 33 th ini pun, dia belum juga berubah.

Apa yang harus kami lakukan? apa yang harus kami sampaikan pada ibu?

Terimakasih banyak..

Jawaban :

terimakasih atas kesediaan anda sharing dengan kami.

Membaca permasalahan yang anda kemukakan, sepertinya adik anda telah terbentuk sejak kecil hingga memiliki kepribadian seperti sekarang.

Apa yang anda telah lakukan sebagai kakaknya sebenarnya sudah benar. Tetapi karena ibu tidak dapat diajak kerjasama untuk mengubah kebiasaan adik akhirnya usaha anda menjadi sulit.

Walaupun menurut anda adik memiliki sifat manja dan malas tetapi pasti dia punya keinginan. Kadang, anak-anak pada urutan terakhir atau anak bungsu menjadi tidak berdaya (malas, manja, dan mungkin tidak menjadi orang hebat) justru karena ia diperlakukan sebagai anak kecil sepanjang hidupnya.

Dianggap tidak dapat membuat keputusan dalam hidup, dianggap ”belum cukup umur” di hampir sepanjang hidupnya. Hingga akhirnya ia benar-benar menjadi seperti itu.

Mungkin anda sudah pernah menanyakan kepada adik mengenai apa keinginannya, tetapi kali ini ada baiknya anda mencoba kembali. Cobalah menyakan kepada adik anda, apa yang ia inginkan dalam hidupnya 1 tahun ke depan, 5 tahun kedepan, dan 10 tahun kedepan.

Dari situ ana dapat mengerti gambaran masa depan seperti apa yang diinginkan adik anda. Misalnya : Seperti apakah gambaran dirimu 1 th, 5 th dan 10 tahun ke depan?

Anda juga dapat menanyakan apa saja yang menjadi kendala adik anda mewujudkan harapan itu.

Jika adik anda tidak kooperatif, atau tidak mau diajak bicara mungkin bisa gunakan tulisan. Atau lakukan pendekatan terlebih dulu sebelum memulai pembicaraan, dengan memegang prinsip-prinsip komunikasi antara lain komunikasi dua arah dan setara.

Jangan tempatkan adik anda sebagai terdakwa atau anak kecil yang harus diajari, diberi tahu, dan harus menurut apa yang disuruh kakaknya. Jangan pula anggap adik anda anak yang tidak tahu apa-apa. Tempatkan ia sebagai manusia yang berhak bicara. Dan tentunya dengarkan apa yang ia sampaikan.

Mudah-mudahan dengan pendekatan yang tepat, adik anda bisa diajak kompromi.

Mengenai masalah kemandirian finansial, mengingat usia adik anda yang sudah dewasa dan mungkin ia tidak memiliki bekal pendidikan yang memuaskan mungkin anda dapat memberikan bantuan dalam mencarikan pekerjaan yang sesuai untuk kemampuan adik.

Atau jika hal itu tidak memungkinkan, anda bisa mengajari adik anda cara membuka usaha kecil-kecilan agar ia belajar merintis usaha untuk menopang kebutuhannya sendiri.

Ada baiknya ibu diajak mendiskusikan permasalahan ini. Mintalah pendapat ibu bagaimana jika anda melakukan apa yang saya sarankan di atas. Yaitu rencana untuk mengajak adik bicara tentnag keinginannya ke depan, barangkali ibu anda punya pandangan lain, bisa dipertimbangkan.

Doronglah ibu agar terlibat dalam proyek ini. proyek mengarahkan adik agar hidupnya lebih terarah. Bila perlu, mintalah ibu yang bicara dengan adik. Karena mungkin hanya beliau yang kata-katanya didengar oleh adik anda.

Sampaikan alasan kenapa anda melakukan ini, adalah  demi kebaikan semuanya. Demi kebaikan adik : agar ia mandiri dalam hidup baik secara sosial, finansial. Demi kebaikan ibu : agar ia tenang jika anak-anak sudah mandiri semua, tidak ada yang bergantung pada ibu.

Karena seperti anda kemukakan, tidak selamanya ibu bisa menemani adik. sebaiknya ajak ibu membicarakan masalah ini, bukan sekedar menasihati beliau agar tidak memanjakan adik.

Sadarilah bahwa ibu adalah figur yang bagaimanapun juga telah memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak daripada kita. Pendapatnya sangat perlu kita pertimbangkan. Beliau tidak akan suka jika dinasihati, oleh karena itu libatkanlah, mintalah pertimbangan darinya.

Saya yakin ibu anda akan merasa dihargai sehingga beliau akan memunculkan saran-sarannya yang terbaik untuk kebaikan keluarga anda.

Terima kasih.

Sumber Gambar : nuril.student.umm.ac.id

This entry was posted in Tanya Jawab and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>