Pertanyaan :
Usia suami 14 tahun dibawah saya. Kami telah menikah 6 taun dan dikaruniai 2 org anak laki2, usia 5 tahun dan 2 bln. Ini pernikahan saya yg kedua. Dari pernikahan sebelumnya saya punya 4 anak (seorang anak saya meninggal taun 2007)Awal pnikahan baik2 saja.
Kami memulai semua dari nol. Menginjak taun ke 2 suami selingkuh dengan seorang janda yg usianya jauh diatas saya. Tp akhirnya kami bs selesaikan baik2. Meskipun dgn rasa sakit, saya bicara baik2 pd wanita itu, bahkan skrg hub kami spt teman (mgkn dia paham bagaimana sakitnya diselingkuhi,krn diapun mengalami.Yg dia tau saat berkenalan, suami mengaku diambang perceraian)
Ternyata ujian saya blm cukup, perselingkuhan terjadi lagi tapi tdk tll lama bahkan saya tau dari org2 dekatnya , dan yg terakhir yg sekarang ini. Dia berhub dengan bekas teman kerjanya.
Alasannya krn gadis itu miskin. Dan kalau saya tidak mau diceraikan saya hrs menerima semua itu. Sakit rasanya. Tp saya hanya diam. Jujur saya tdk mau bercerai krn sy mencintainya. Tp semakin hari rasa sakit itu semakin dalam.
Bahkan kalau ada sms yg ketauan saya dia spt tak merasa menyakiti saya. Kadang saya berpikir apa yg salah? Slama ini saya tdk menuntut apapun, bahkan ketika dia bawa saya hidup susahpun saya mau (maaf bukan menyombongkan, keluarga saya jauh diatas kel nya dalam hal materi) bahkan sampai saat inipun, saya tdk pernah dinafkahi.
Justru saya byk menanggung beban hutangnya. Yg lebih parahnya lg saya rela hamil lagi dalam usia 38thn krn dia ga mau hanya punya 1 anak. Pdhl resiko yg saya tanggung sangat besar krn brarti itu operasi caesar yg kelima kalinya.
Allah msh sayang sm saya, slama hamil saya tdk pnah ada keluhan bahkan proses melahirkanpun lancar. Alhamdulilah anak saya sehat. Yang ingin saya tanyakan Bagaimana saya seharusnya bersikap.
Saya tidak pernah berani bicara, krn dia sll ancam untuk pergi. Saya tidak ingin bercerai, tp saya juga tak mau dimadu suami.
Sungguh…. Saya hopeless sekali
Jawaban :
Ibu N yang sedang hopeless.
Terima kasih atas kepercayaan anda untuk sharing dengan kami.
Saya bisa merasakan betapa sakitnya perasaan anda atas kejadian yang anda alami. Apalagi perselingkuhan suami bukan yang pertama kalinya.
Dan saya pun salut atas sikap anda yang begitu sabar menghadapi perselingkuhan yang pertama, bisa menjalin hubungan baik dengan mantan selingkuhan suami, dan kesediaan anda menanggung risiko kesehatan ketika anda memutuskan untuk hamil lagi ”demi suami”. Tentunya semua itu bukan keputusan yang mudah untuk dijalani. Anda telah melakukan banyak hal untuk pernikahan anda berdua.
Sebelum membahas permasalahan anda, sebenarnya ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan, yaitu :
pertama : apakah anda membuat kesepakatan dengan suami setiap kali suami ”sembuh” dari perselingkuhannya? misalnya berjanji tidak akan mengulanginya dan konsekuensi yang akan ia terima jika ternyata suami tidak menepati janji tersebut.
Kedua : jika anda tidak keberatan diajak suami hidup dalam kesusahan apakah anda selalu diam saja dan tidak menyampaikan keluhan pada suami?misalnya mengeluh mengenai beban finansial yang harus anda tanggung (menanggung hutang suami).
Ketiga : apakah anda mengenal sifat dan perilaku suami sebelum ia menikah dengan anda?apakah dulu ia punya riwayat gonta ganti pacar?
Ibu N, Pada umumnya pria memang menyukai hal-hal yang menantang dan kompetitif. Sedangkan wanita pada umunya lebih menyukai hal-hal yang sifatnya afiliasi (pertemanan) dan kurang kompetitif. Salah satu hal yang menantang adalah petualangan.
Sifat petualang ini bisa dimunculkan dalam pekerjaan (sering berganti pekerjaan karena tidak puas, dan ingin mencari tantangan serta pengalaman baru), muncul dalam hobi misalnya menjelajah hutan, naik gunung, dll.
Dapat pula muncul dalam relasi antar manusia misalnya dalam hal menjalin hubungan (gonta ganti pacar), nah sialnya jika orang tersebut sudah menikah dan ingin gonta ganti istri. Maka itu akan merugikan banyak orang.
Ibu N, tentunya anda setuju dengan saya bahwa komunikasi adalah hal yang sangat penting. Tanpa komunikasi, kita tidak dapat berinteraksi dengan orang lain. Kita pun tidak dapat dengan jelas menangkap maksud orang lain.
Dalam pertanyaan, anda menulis bahwa anda hanya diam ketika sakit hati akibat suami selingkuh yang ketiga kalinya (mudah mudahan saya tidak salah hitung). Diam itu bisa diartikan banyak bu. Dan bisa jadi orang akan salah mengartikannya.
Anda perlu mengubah sikap diam anda. Suami tidak akan bisa mengerti perasaan anda jika tak anda komunikasikan. Anda perlu menyampaikan bahwa anda sakit hati, sedih, kecewa pada suami, dll yang mungkin anda rasakan.
Barangkali, suami menjadi tidak mau tahu perasaan anda karena anda belum mengkomunikasikannya. Yang paling penting adalah, jangan merasa tidak memiliki ”nilai tawar” atau bargaining point. Anda berharga, dan layak dihargai oleh suami.
Apalagi, pengorbanan anda untuk suami tidak sedikit. Jadi, bicaralah pada suami bu. Sikap diam ibu bisa jadi salah satu faktor yang membuat suami anda berani ”menyepelekan” ibu. Saya tidak bermaksud mengajari orang menentang atau melawan suami, tetapi mendorong agar relasi antara suami dan istri berjalan sejajar.
Ibu N, seperti pertanyaan saya di awal apakah anda membuat kesepakatan dengan suami ketika ia bersedia ”kembali” pada ibu dan mengakhiri perselingkuhannya yang pertama? ini penting.
Karena akan mendorong orang untuk berperilaku seperti yang diharapkan yaitu tidak lagi selingkuh. Sedangkan yang dibuat kesepakatan saja mungkin akan diulang, apalagi jika tidak dibuat kesepakatan.
Kemudian, sebagaimana pertanyaan saya yang kedua : jika anda tidak keberatan diajak suami hidup dalam kesusahan apakah anda selalu diam saja dan tidak menyampaikan keluhan pada suami? misalnya mengeluh mengenai beban finansial yang harus anda tanggung (menanggung hutang suami).
Pria kadang tidak suka dengan wanita yang terlalu mandiri. Ia ingin naluri sebagai lelakinya diakui. Sebagai lelaki ia ingin dihargai, dianggap kuat, tangguh, dll.
Bahkan jika ia adalah lelaki yang tidak dapat memenuhi kebutuhan finansial keluarga seperti yang anda sampaikan. Ia sadar betul, jika isrtinya tidak mandiri maka kebutuhan finansial kelurga akan terbengkalai. Tapi tetap saja, ia ingin dihargai, dianggap kuat, tangguh, dianggap pengayom keluarga, dll.
Pria ingin dibutuhkan, bu. Walaupun sebenarnya mungkin tanpa dia, anda bisa menjalankan rutinitas keluarga dengan baik. Anda bisa mengurus keluarga dan keuangan.
Tapi pria ingin dibutuhkan. Apakah anda sudah menempatkan ia ”merasa dibutuhkan keluarga?” jika pria merasa disepelekan oleh keluarga dan merasa tidak dihargai, ia dapat melakukan pemberontakan. Salah satunya dengan berusaha menyakiti hati istri. Mungkin, suami anda termasuk yang ini.
Yang terakhir, apakah suami punya riwayat ganti ganti pacar?jika iya berarti masalah pada kepribadian suami ibu. Ia harus mendapatkan konseling dengan psikolog terutama yang paham masalah keluarga dan perkawinan sesuai dengan permasalahan anda.
Ibu N, segeralah bertindak : jalin komunikasi. Jangan hanya diam jika anda tidak dapat menerima keadaan ini. Diam tidak akan merubah apapun. Akan lebih baik jika anda ditemani oleh pihak ketiga yang dapat menjadi mediasi antara suami dan anda.
Orang ketiga ini sebaiknya adalah orang yang berpengaruh dalam hidup suami, mungkin ibunya, ayahnya atau kakaknya atau mungkin teman akrabnya.
Tentu saja sebelum anda menentukan siapa yang akan membantu anda membicarakan masalah ini dengan suami, anda perlu memastikan terlebih dahulu bahwa mereka sepaham dengan anda di dalam memandang permasalahan ini.
Sampaikan kepada suami anda tentang harapan anda terhadap pernikahan ini, termasuk di dalamnya keinginan anda untuk tidak bercerai maupun dimadu. Kemukakan pula semua hal yang telah anda berdua lewati dalam rumah tangga, anak-anak..
Tetapi ini tidak mudah ibu N. Namun anda jangan menyerah dulu. Yakinlah anda bisa menyelamatkan perkawinan anda. Dengan keyakinan itu, akan membantu anda bertindak melakukan usaha-usaha demi menyelamatkan perkawinan anda.
Satu hal yang juga penting, jagalah agar kepala anda tetap dingin. Kendalikan emosi anda. Mungkin anda sudah tak tahan dengan kondisi ini dan ingin ”meledak”. Tetapi kendalikanlah. Suami anda sedang dalam keadaan sulit diajak kompromi, sehingga anda perlu tetap berkepala dingin agar tidak menyulut permasalahan menjadi lebih berat.
Untuk mengurangi beban perasaan anda yang menekan, lakukan relaksasi. Ini berguna untuk melepaskan perasaan-perasaan yang mengganggu dan mencegah perasaan tidak menyenagkan terlalu lama mengendap di hati anda.
Ibu N, selamat berjuang. Saya turut berdoa semoga anda diberi kekuatan oleh Tuhan sehingga mampu menyelesaikan permasalah dalam pernikahan anda.
Sumber Gambar : riausatu.com
Saya tau bgmana rasanya,krn sy pun mengalaminya.