Pernahkah Anda mengalami suatu peristiwa yang sulit dilupakan?padahal peristiwa itu sudah lama berlalu namun Anda masih mengingatnya bahkan begitu membekas di dalam ingatan Anda?
Masing-masing orang memiliki masa lalu dan pemaknaan atas masa lalunya itu secara unik, berbeda dan tidak akan pernah ada dua manusia yang memiliki pemaknaan yang sama persis atas suatu peristiwa.
Meskipun peristiwa yang dialami sama. Kita bisa sedih, bahagia, gembira, takut, marah, jijik, tertekan, kecewa, ataupun malu atas kejadian di masa lalu yang hingga saat ini mungkin masih membekas dalam ingatan kita.
Peristiwa di masa lalu yang memalukan, sebuah pengalaman menyakitkan atau pengalaman yang amat menakutkan… seperti : menerima pelecehan seksual, dikhianati oleh pasangan hidup, gagal dalam bisnis dan mengalami kerugian puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Atau melakukan perbuatan yang tidak termaafkan dari segi agama, adalah kejadian-kejadian yang meninggalkan kesan mendalam. Sulit memang, mengakui kesalahan ataupun kekalahan di masa lalu yang melukai perasaan kita bahkan melukai harga diri kita, peristiwa-peristiwa itu membuat kita menjadi sedih, kecewa, tertekan, dan tidak berdaya.
MENGAKUI bahwa kita kalah saja sudah sulit, apalagi MENERIMA DAN MELUPAKAN? Bukan hal mudah untuk melakukan semua itu. Kemudian yang ada hanyalah rasa tertekan yang makin dalam, perasaan-perasaan bersalah, dan terus menerus menganggap diri tidak berarti lagi dan yang lebih parah lagi malah menganggap hidup tidak berguna.
Wajar saja kita memiliki perasaan-perasaan seperti itu karena kita diberikan Tuhan “seperangkat” perasaan untuk merasa. Tapi yang perlu kita tahu bahwa bukan kejadian atau peristiwanya yang membuat kita merasakan sesuatu (sedih, jengkel, tertekan, dll) dan muncul emosi tertentu (marah, takut, dll).
Tetapi yang perlu kita ketahui adalah alasan mengapa kita memiliki perasaan-perasaan tertentu dan bereaksi dengan cara-cara tertentu. Hal itu merupakan cara kita dalam memaknai suatu peristiwa. Coba bayangkan sebuah pemandangan indah di pegunungan, banyak pohon rindang dengan air terjun yang deras dan batu-batuan besar hitam yang bisa dijadikan tempat duduk.
Mungkin reaksi Anda adalah sebuah perasaan nyaman, tenang dan kesejukan alam yang menenangkan jiwa, namun ada teman saya yang menyatakan perasaan yang berbeda.
Teman saya mengatakan bahwa pemandangan seperti itu membangkitkan perasaan ngeri, takut dan merinding , karena dia memiliki asumsi bahwa di tempat seperti itu banyak ular dan sangat mungkin bagi lelaki hidung belang mencari mangsa, karena banyak pohon rindang yang bisa digunakan untuk bersembunyi dan memperkosa.
Nah, sekarang terlihat bedanya bukan ? Apa yang kita rasakan adalah pemaknaan atau cara memaknai peristiwanya, dalam hal ini peristiwanya adalah pemandangan alam.
Namun demikian, sebagai manusia yang memiliki kapasitas untuk tumbuh dan berkembang, sangat dibutuhkan penyatuan kembali pengalaman-pengalaman pahit dalam hidup yang sempat dilupakan atau diingkari, agar tercapai kesehatan mental yang baik sehingga kita dapat menjalankan fungsi sebagai manusia sepenuhnya yang bermanfaat terutama bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sumber gambar : www.freewebs.com
oh jadi gt ya kesimpulannya ,.jika punya knangan buruk anggap lah sebuah pelajaran hidup dan ikhlaskan lah,.dan kalo kenangan baik.,bersyukurlah karena itu tidak akan kau dapatkan dikemudian hari