Cara Mengatasi Rasa Malu Anak SD di Sekolah

Ibu Dian bercerita kepada temannya,” Anak saya tidak berani mengemukakan pendapatnya di kelas. Padahal saya tahu dia bisa menjawab pertanyaan guru itu.”

Ibu Dian tidak sendirian, banyak orangtua mengeluhkan anaknya tidak berani mengemukakan pendapatnya di kelas. Ada beberapa kemungkinan untuk menjelaskan hal ini, kemungkinan yaitu  karena anak tersebut tidak tahu betul jawaban yang harus diberikan, karena autisma, atau karena sifat pemalunya yang terlalu besar.

Cara yang paling sederhana untuk mengetahui penyebab mengapa anak Anda tidak berani bicara di depan kelas adalah dengan saling bertukar informasi dan saling mencocokkan sifat-sifat anak tersebut ketika di rumah dan sekolah antara guru dan orangtua.

Apabila penyebabnya adalah karena sifat pemalu yang berlebihan, maka berikut ini cara mengatasinya.

Ada beberapa anak yang cenderung tidak mau bicara bila berada pada situasi asing atau situasi baru seperti di rumah teman orangtua, di sekolah, atau di tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Rasa malu yang ekstrim atau berlebihan dikenal dengan istilah elective mutisme.

Sebagian besar anak secara perlahan akan dapat menghilangkan rasa malu yang berlebihan ini seiring dengan bertambahnya usianya. Namun tidak sedikit yang terus menetap hingga ia dewasa sehingga mengganggu dalam pergaulannya kelak.

Apabila permasalahan Anda sangat mengganggu, Anda dapat meminta bantuan psikolog anak untuk membantu anak anda dan Anda mengatasi masalah ini. Biasanya akan ada program terapi untuk membantu anak mengatasi rasa malu berlebihan agar menjadi rasa malu yang tidak merugikan.

Untuk Anda sebagai orangtua berikut ini yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi anak pemalu :

  1. Jangan membujuk atau memaksa anak untuk bicara dalam situasi dimana ia merasa tidak nyaman. Karena hal ini tidak ada gunanya justru memperburuk kondisinya
  2. Bicaralah secara perlahan kepada anak, agar anak tidak takut atau khawatir
  3. Tanyakan hal-ahal apa sajakah yang membuatnya malu
  4. Bila anak mendapat guru baru di kelasnya, jelaskan masalah malu yang dialami anak kepada guru tersebut dan biarkan anak membangun rasa percaya diri di lingkungan barunya dengan caranya sendiri
  5. Secara rutin ulangi langkah nomor 4 setiap tahun ajaran baru, atau setiap anak pindah ke sekolah atau lingkungan baru.
  6. Jalin kerjasama dengan guru untuk bertukar informasi dan menemukan cara yang disepakati bersama untuk mengevaluasi apa yang dipelajari siswa dan bagaimana pendekatan paling baik untuk mengatasi masalahnya.

Langkah nomor 6 masih jarang dilakukan oleh orangtua karena biasanya mereka merasa malu bila harus membahas masalah anak-anaknya terlalu mendapal dengan guru kelasnya. Padahal guru kelas, terutama di tingkat pendidikan dasar (SD) adalah orang yang paling memahami perkembangan anak selama di sekolah.

Orangtua tidak perlu malu dan sungkan untuk bicara kepada guru mengenai perkembangan dan masalah anak-anak mereka meskipun anak tidak memiliki masalah berarti. Ini penting untuk memantau terus kemajuan anak di sekolah serta mendapatkan informasi berharga tentang anak di sekolah yang mungkin tidak bisa Anda dapatkan hanya dengan menanyai anak.

 

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>